The Third Wife ★★★½

Sudah setahun yang lalu, film yang cukup diam-diam mencuri perhatian di Toronto Festival edisi 2018 silam, film Vietnam yang merupakan debut penyutradaraan Ash Mayfair yang diberi nama The Third Wife hadir. Setelah dari itu, puluhan festival film pun mereka singgahi dan banyak memenangkan penghargaan. Namun tidak terlepas dari sedikit kontroversi, dimana yang paling besar ialah bagaimana mereka menggunakan aktris 14 tahun untuk benar-benar memotret karakter 14 tahun dalam alur cerita yang nyatanya cukup dewasa ini. Secara tidak langsung memanf Ash Mayfair yang juga menulis naskahnya, mengambil inspirasi dari kejadian nyatanya yang dialami turunan keluarganya sendiri.

Pada abad ke-19 di Vietnam, adalah May, bocah perempuan berusia 14 tahun yang dimasanya yang sangat muda sekali harus menjadi istri ketiga dari pemilik lahan kaya bernama Hung Soon. Dia mulai diperkenalkan dengan cara-cara hidup sebagai istri terutama bagaimana harus memuaskannya, dan bagaimana belum mendapatkan status apabila belum bisa memberikan keturunan. May mulai mengamati sekelilingnya, mempelajari apa yang diyakininya sebagai hal yang harus dilakukannya sembari menyadari bahwa jalan yang menanti bukanlah jalan yang mudah.

Ada satu hal yang pertama saya sesalkan ialah eksploitasi hewannya yang terlalu berlebihan dibeberapa adegan yang menurut saya tidak terlalu berpengaruh besar pada ceritanya. Untuk kisahnya sendiri, ada pesan tertentu yang coba ditransformasikan Ash ke dalam film debutnya yang satu ini terlepas dari kontroversi yang mengelilinginya. Untuk segi visual, The Third Wife disajikan dengan begitu indah dan berwarna sepanjang film dimanjakan walau dalam format kotak jadul yang menemani kesunyian settingan yang mengiringi perjalanan hidup May dalam babak barunya.