WALL·E ★★★★½

Petualangan luar angkasa memanglah agak jarang disentuh oleh animasi Pixar sehingga mengejutkan juga menyaksikan tema yang digabung dengan teknologi masa depan dalam judul Wall-E menjadi film kesembilan dari Pixar ini. Naskahnya sendiri ditulis oleh Andrew Stanton yang juga menyutradarainya. Uniknya lagi Pixar memilih menceritakan kisahnya tanpa butuh banyak dialog dan membiarkan visualnya bercerita lebih luas.

Pada abad ke-29, Bumi sudah mengalami kepunahan manusia akibat sampah dan polusi yang berkepanjangan yang merusak ekosistem. Dibalik itu ada sebuah perusahaan besar yang bernama Buy-N-Large yang menugaskan robot untuk membersihkan Bumi, namun terakhir ini tersisa satu robot saja, yang bernama WALL-E yang merupakan kependekan dari Waste Allocation Load-Lifter (Earth Class). Sepanjang 700 tahun perjalanannya, Wall-E mulai merasakan kesepian, lalu tanpa sengaja bertemu EVE, sebuah probe yang dikirim ke Bumi dalam sebuah misi. Ketika Wall-E mengikuti Eve, dia pun bersiap menghadapi petualangan besar yang mengalahkan apa yang selama ini dia lakukan di Bumi.

Dengan luar biasanya, kita diajak berimajinasi melewati batas nalar yang bisa kita bayangkan. Tak hanya sekadar membuat kita decak kagum dengan kemodernan masa depan, namun disisi bersamaan mencoba menyinggung sisi negatif yang dimediakan lewat pengrusakan bumi. Pixar pun berhasil membuat (lagi) karakter ikonik yang satu ini yang menjadikan ini salah satu pencapain terbaik dari animasi Pixar bersanding tinggi dengan Up dan Toy Story 3 yang bagi saya tak hanya di studio mereka saja, tetapi salah satu animasi terbaik yang pernah ada.