I Was Born, But... ★★★★★

Film ini bukan film pertama dari Yasujiro Ozu yang saya tonton, tapi…

Cerita berfokus pada dua bersaudara yaitu Keiji and Ryoichi yang baru pindah ke pinggiran Tokyo, dekat dengan bos ayah mereka tinggal. Situasi tidak mudah bagi Keiji dan Ryochi karena mereka kerap dibully oleh sekelompok anak yang dipimpin oleh Kamekichi yang bertubuh besar. Mereka berdua sampai ogah sekolah hingga akhirnya ketahuan oleh sang Ayah yang tak bersimpati pada alasan mereka membolos dan dengan tegas menyuruh Keiji and Ryoichi tetap bersekolah dan mengabaikan para pembully. Keiji dan Ryoichi pun berusaha dengan segala cara untuk mengatasi Kamekichi dan kawan-kawannya.

Ozu mengawali film ini dengan mengajak kita mengakrabkan diri pada dua bocah yang menjadi tokoh sentral cerita, Keiji dan Ryochi. Berbagai polah kocak dan nakal kedua bersaudara dalam menghadapi pembully membuat saya tertawa sekaligus gemas. Murni menghibur. Dan memberi kesan seolah ini hanyalah film bisu komedi belaka. Sebuah pembuka dan pengantar yang jitu untuk menarik penonton mendalami cerita. Akting Hideo Sugawara (Ryoichi ) dan Tomio Aoki (Keiji ) mencuri perhatian di sepanjang film. Salah satu adegan paling memorable bagi saya adalah saat Tomio Aoki acapkali melepas sandal pada situasi genting. Entah itu adalah hasil dari arahan Ozu atau improvisasi Aoki, terasa sebagai spontanitas yang natural. Hideo Sugawara bermain mengesankan sebagai sang kakak yang berani, banyak akal dan pemberontak dengan kenaifan khas anak-anak. Kekuatan karakternya terlihat ketika Ryoichi dihadapkan pada realitas hidup orang dewasa, emosi yang ditampilkannya sangat otentik. Angkat topi untuk Ozu yang sukses mengarahkan kedua aktor cilik ini.

Menjelang film berakhir, ketika saya berpikir bahwa konflik sudah terselesaikan dan semua baik-baik saja, Ozu tiba-tiba menohok saya lewat sebuah kejadian yang mencoreng figur otoritas sang Ayah di mata kedua bocah polos itu. Perbuatan Ayah yang rela bertingkah konyol demi menyenangkan bosnya, tidak bisa diterima oleh Ryochi dan Keiji. Pingpong dialog antara Ryochi dan Ayahnya menjadi klimaks cerita yang menawan.

Pertanyaan dan argumen Ryochi sungguh bikin makjleb! Jenaka, idealis, polos namun membangkitkan empati yang dilematis. Saya bingung harus menyetujui pihak yang mana. Saya memahami benar kekesalan dan frustasinya Ryoichi, namun saya juga mengerti betul alasan sang Ayah memilih untuk melakukan yang perlu dilakukan. Film ini menjadi dalam maknanya. Betapa sebuah idealisme dapat luntur ketika menghadapi tuntutan kebutuhan. Betapa terkadang harga diri harus dikesampingkan demi mengamankan sebuah tujuan. Ozu menampilkan dengan adil dilematis itu dari kedua sudut pandang. Menjadi dewasa adalah menerima bahwa hidup tidak selamanya ideal, tetapi kacamata polos kanak-kanak mengingatkan pada nilai-nilai yang tergerus oleh keharusan. Pada akhirnya tidak ada yang salah ataupun benar. Dan pada akhirnya kedua pihak harus berdamai dengan kenyataan. Seperti harapan yang diungkapkan sang Ayah ketika para bocah tertidur lelap, “Don't become a sorry apple-polisher like me, boys.”